Sejauh Mana Kepedulian kita?…….

Mendahulukan kepentingan orang lain atas dirinya sudah jarang lagi kita temui sekarang. Orang lebih mementingkan diri mereka sendiri, sibuk memperkaya diri dengan tidak mempedulikan orang di sekitarnya. Cobalah tengok fenomena yang ada, orang-orang banyak yang kelaparan di tengah orang-orang yang menghabiskan puluhan ribu atau bahkan jutaan rupiah untuk membeli makanan, orang sibuk membangun rumah mewah dilengkapi dengan fasilitas yang serba mewah sedangkan masih banyak orang-orang yang terlantar hidup di kolong-kolong jembatan, di jalanan dan di tempet-tempat kumuh.

Di antara sifat kebaikan seseorang adalah mendahulukan orang lain atas dirinya dan mengutamakan orang lain atas dirinya yang disebut juga itsar. Bisa jadi ia lapar agar orang lain kenyang dan ia haus agar orang lain tidak kehausan. Bahkan, ia meninggal dunia demi kehidupan orang-orang lain. Ini bukan hal yang mengherankan bagi seseorang  yang cinta kan kebaikan dan haus akan kebaikan yang jiwanya selalu dipenuhi dengan kebaikan.

Berikut ini adalah kisah mengenai itsar yang patut kita jadikan renungan agar kebaikan dalam diri kita semakin bertambah:

  • Di Daar An-Nadwah, tokoh-tokoh Quraisy menerima dengan aklamasi pendapat Abu Marrah yang mengusulkan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibunuh di rumahnya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar keputusan tersebut. Ketika beliau mendapatkan izin untuk berhijrah ke Madinah, maka beliau bertekad bulat untuk hijrah, dan mencari orang yang mau tidur di ranjangnya pada malam hari untuk mengecoh orang-orang Quraisy yang ingin membunuh beliau, kemudian beliau meninggalkan rumah, dan membiarkan orang-orang Quraisy menunggu beliau bangun tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkesimpulan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu orang yang cocok untuk mengorbankan nyawanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan rencananya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pun tanpa ragu sedikitpun memberika nyawanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu tidur di atas ranjang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengetahui kapan tangan-tangan jahat akan menangkapnya, menyerahkannya kepada orang-orang yang haus darah, dan mempermainkan dirinya dengan pedang-pedang mereka. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu tidur, dan itsar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kehidupannya. Ia membuat percontohan dengan pengorbanannya dengan nyawa.
  • Hudzaifah al-Adawayyu berkata: “pada perang Yarmuk, aku mencari anak pamanku dengan membawa sedikit air. Aku berkata: “Jika anak pamanku meninggal dunia, aku akan memberinya air dan mengusap wajahnya dengan air. Ketika aku dapat menemukannya, aku berkata: “Bagaimana kalau engkau aku beri minum? Ia memberi memberi isyarat kepadaku bahwa ia ingin minum, tiba-tiba orang lain berkata, “Air, air” anak pamanku memberi isyarat agar aku pergi ke orang tersebut. Aku pun mendatangi orang tersebut, dan ia adalah Hisyam bin Al-Ash. Aku berkata: “Bagaimana kalau engkau aku beri minum? Hisyam bi Al-Ash mendengar suara orang lain, “Air, air” Hisyam bin Al-Ash memberi isyarat kepadaku agar aku pergi ke orang tersebut. Aku pun mendatangi orang tersebut, namun ternyata ia telah meninggal dunia, kemudian aku balik ke tempat Hisyam bi Al-Ash, ternyata ia telah meninggal dunia, kemudian aku balik ke tempat anak pamanku, ternyata ia juga telah meninggal dunia. Semoga Allah merahmati mereka semua.”

Begitulah ketiga syuhada di atas membuat contah tentang itsar, dan mendahulukan orang lain atas dirinya.

Dari dua kisah di atas cobalah kita mengambil pelajaran, kalau sifat itsar ini diamalkan maka sudah tentu banyak terjadi kebahagiaan di dunia ini dan sebaliknya kalau kita mementingkan diri sendiri, maka penderitaan orang di sekitar kita akan terus bertambah. ketahuilah rahmat Allah Ta’ala akan jauh dari orang-orang yang mementingkan diri sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9).

 

https://indahnyabersabar.wordpress.com

Pos ini dipublikasikan di mutiara hikmah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s