Ingat Kawan, Ada Yang Selalu Mengawasimu!

Kita mengkondisikan diri kita selalu merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala di setiap waktu kehidupan kita, dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat dan memperhatikan setiap amal perbuatan kita. Dengan kondisi seperti ini, kita akan selalu merasakan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesempurnaan-Nya, tentram ketika ingat nama-Nya dan merasa malu ketika akan berbuat kemaksiatan itulah yang dinamakan muraqabah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu maka takutlah kepada-Nya.” (al-Baqarah: 235)

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda mengenai kondisi di atas, Beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. (Muttafaq ‘Alaih)

Barangsiapa yang selalu merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala maka akan terkontrol segala tindakan dan tingkah lakunya. Hidupnya akan lebih bermakna karena semua kehidupan dijalaninya dengan penuh pengawasan dan kehati-hatian dan selalu menghindari hal-hal yang tidak berguna dalam hidupnya.

Jalan inilah yang ditempuh oleh orang-orang shalih terdahulu. Mereka membawa diri mereka kepadanya hingga akhir hayat mereka, dan mereka berhasil mencapai derajat muqarrabin (hamba-hamba yang dekat dengan Allah).

Berikut ini adalah beberapa mutiara hikmah dari orang-orang shalih terdahulu:

  1. Ditanyakan kepada Al-Junaid, “Bagaimana kita menahan pandangan? Al-Junaid, “Yaitu pengetahuanmu, bahwa pandangan Dzat yang melihatmu itu lebih dahulu dan lebih cepat daripada penglihatanmu kepada sesuatu  yang engkau lihat.”
  2. Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Hendaklah engkau merasa diawasi oleh Dzat yang mengetahui apa saja yang tersembunyi  dari hal-hal yang tersembunyi. Hendaklah engkau berharap kepada Dzat yang memenuhi harapanmu. Dan hendaklah engkau takut kepada Dzat yang memiliki hukuman.”
  3. Ibnul Mubarak berkata kepada seseorang: “Hai si Fulan, hendaklah engkau merasa diawasi Allah.” Orang tersebut bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang apa yang dimaksud dengan pengawasan Allah, kemudian Ibnul Mubarak menjawab: “Jadilah engkau seperti orang yang bisa melihat Allah selama-lamanya.”
  4. Abdullah bin Dinar berkata: “Pada suatu hari, aku pergi ke Mekkah bersama Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, “Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami. Penggembala tersebut berkata: “Kambing-kambing ini bukan milikku, namun milik majikanku. Umar bin Khaththab berkata: “Katakan saja pada majikanmu, bahwa kambingnya dimakan serigala.” Penggembala tersebut berkata: “Kalau begitu, di mana Allah? Umar bin Khaththab menangis, kemudian ia pergi ke majikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut, dan memerdekakannnya.

Seorang penyair berkata:

“Jika kau menyendiri dengan zaman pada suatu hari, jangan kau katakan, “Aku telah menyendiri,” namun katakan, “ada yang mengawasiku.” Sedetik pun kau jangan beranggapan bahwa Allah lengah dan bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kau rahasiakan, tidakkah kau lihat, bahwa hari ini cepat berlalu dan hari esok sudak dekat bagi orang-orang yang menunggu. (‘Aisyah)

 

Pos ini dipublikasikan di mutiara hikmah dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s