Mengenali Anak Autis

Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan, dan angka kejadian anak autisme masih terus meningkat di seluruh dunia. Saat ini sering timbul kekhawatiran para orang tua jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim, apakah anak menderita autisme? Marilah mengenal lebih dalam tentang Autisme pada anak.

Sering timbul kekhawatiran jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim, apakah anak menderita autisme. Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan, angka kejadian di seluruh dunia terus meningkat. Banyak penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi dan bahkan sering mendapatkan diagnosa yang salah, atau bahkan terjadi overdiagnosis. Hal tersebut tentu saja sangat merugikan anak.Apakah autisme itu?
Kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku.

Kapan deteksi dini autisme pada anak?
Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun, secara umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2-5 tahun. Pada beberapa kasus aneh gejala terlihat pada masa sekolah. Berdasarkan penelitian lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki dari pada anak perempuan. Beberapa tes untuk mendeteksi dini kecurigaan autisme hanya dapat dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas.

Waspadai gejala-gejala autisme
Gejala autisme berbeda-beda dalam kuantitas dan kualitas, penyandang autisme infantil klasik mungkin memperlihatkan gejala dalam derajat yang berat, tetapi kelainan ringan hanya memperlihatkan sebagian gejala saja. Kesulitan yang timbul, sebagian dari gejala tersebut dapat muncul pada anak normal, hanya dengan intensitas dan kualitas yang berbeda.

Gejala-gejala pada autisme mencakup gangguan pada:
1. Gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal

  • Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara.
  • Mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet.
  • Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
  • Bicara tidak digunakan untuk komunikasi.
  • Meniru atau membeo, beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada, maupun kata katanya tanpa mengerti artinya.
  • Kadang bicara monoton seperti robot.
  • Mimik muka datar.
  • Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat.

2. Gangguan pada bidang interaksi sosial

  • Menolak atau menghindar untuk bertatap muka.
  • anak mengalami ketulian.
  • Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk.
  • Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang.
  • Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
  • Bila didekati untuk bermain justru menjauh.
  • Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain.
  • Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun.
  • Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya.

3. Gangguan pada bidang perilaku dan bermain

  • Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang-ulang sampai berjam-jam.
  • Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh.
  • Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil-mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar.
  • Terdapat kelekatan dengan benda-benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana-mana.
  • Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak.
  • Perilaku ritualistik sering terjadi.
  • Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat-lompat, berputar-putar, memukul benda berulang-ulang.
  • Dapat juga anak terlalu diam.

4. Gangguan pada bidang perasaan dan emosi

  • Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan didatangi dan dipukulnya.
  • Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata.
  • Sering mengamuk tidak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif.

5. Gangguan dalam persepsi sensoris

  • Mencium-cium, menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja.
  • Bila mendengar suara keras langsung menutup mata.
  • Tidak menyukai rabaan dan pelukan. Bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan.
  • Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu.

Apa yang sebaiknya anda lakukan?
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anda jika mencurigai adanya satu atau lebih gejala di atas pada anak anda. Tetapi jangan juga cepat-cepat menyatakan anak anda sebagai penderita autisme. Diagnosis akhir dan evaluasi keadaan anak sebaiknya ditangani oleh suatu tim dokter yang berpengalaman, terdiri dari; dokter anak, ahli saraf anak, psikolog, ahli perkembangan anak, psikiater anak, ahli terapi wicara. Tim tersebut bertanggung jawab dalam menegakkan diagnosis dan memberi arahan mengenai kebutuhan unik dari masing-masing anak, termasuk bantuan interaksi sosial, bermain, perilaku dan komunikasi.

Sumber: http://www.infoibu.com

 

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kesehatan dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s