Mengoptimalkan Anak Cedera Otak

ANAK yang mengalami cedera otak punya peluang hidup seperti anak normal. Dengan mendayagunakan bagian otak yang masih sehat, anak cedera otak bisa dioptimalkan kemampuan motorik maupun intelektualnya. Ketika seorang anak divonis mengalami cedera otak, sering kali orangtua bingung harus berbuat apa.

Berbagai terapi dilakukan untuk membuat anak-anak mereka normal kembali seperti terapi fisik, terapi wicara, dan terapi penglihatan. Sayangnya hasilnya kerap dianggap kurang memuaskan meskipun pada beberapa kasus terapi semacam ini membawa sedikit perubahan.

Rina (32), ibu yang memiliki anak cedera otak, merasa putus asa. Pasalnya sudah dua tahun anaknya, Dito (6), ikut terapi di sebuah rumah sakit agar bisa berjalan. Tetapi, sampai sekarang Dito belum juga bisa melangkahkan kakinya. Ia hanya bisa berdiri sambil dipegangi. Menurut Rina, Dito lumpuh karena dulu waktu bayi sering demam tinggi dan kejang.

Direktur The Institutes for The Achievement of Human Potential dari Philadelphia, Amerika Serikat, Douglas Doman, mengatakan, terapi yang dilakukan pada anak-anak yang mengalami cedera otak banyak yang salah sasaran. Anak dengan cedera otak sulit mengalami kemajuan karena terapi dilakukan hanya untuk mengobati gejalanya, bukan pada sumber penyebabnya. ”Kalau sumbernya ada di otak, terapi seharusnya dipusatkan pada otak, bukan pada anggota tubuh yang dianggap bermasalah,” kata Douglas.

Douglas berada di Jakarta akhir pekan lalu untuk menggelar seminar ”Harapan Baru bagi Orangtua dengan Anak Cedera Otak”. Ia adalah anak dari Glenn Doman, pendiri The Institutes for The Achievement of Human Potential, lembaga yang didirikan untuk menangani anak-anak dengan cedera otak di Amerika Serikat.

Penyebab cedera Dalam buku Apa Yang Dapat Dilakukan Pada Anak Anda Yang Cedera Otak yang ditulis Glenn Doman, definisi anak cedera otak adalah ”setiap anak yang mengalami sesuatu yang mencederai otaknya”. Sesuatu ini dapat terjadi kapan pun, mulai ketika anak masih ada dalam kandungan, selama proses kelahiran, setelah dilahirkan, hingga anak cukup besar.

Selama masa pembuahan, cedera otak bisa terjadi bila ada faktor genetik yang memengaruhi, seperti kelainan kromosom yang menyebabkan kelainan otak pada anak Down Syndrome. Ketidakcocokan rhesus darah pada pasangan suami-istri juga bisa menyebabkan cedera otak.

Sementara itu, cedera otak juga bisa disebabkan faktor eksternal seperti trauma kepala, radang, pendarahan otak, serta penyakit yang bisa merusak otak secara progresif seperti tumor otak. Anak yang mengalami cedera otak kehilangan kemampuan untuk menyerap informasi (sensorik) dan merespons informasi (motorik).

Menurut Douglas, anak-anak yang mengalami cedera otak sering diberi cap yang malah membuat orang menjadi bingung karena sering kali menganggap nama itu sebagai penyakit. Sebut saja keterbelakangan mental, kelumpuhan otak, Down Syndrome, gangguan emosi, lumpuh layuh, autis, epilepsi, hiperaktif, dan masih banyak lagi. Nama-nama itu, kata Douglas, sebenarnya adalah gejala dari adanya cedera otak.

Anak yang mengalami cedera otak sering dianggap bodoh karena mereka tidak mampu bicara, berdiri, atau berjalan. Padahal jika kemampuan otaknya bisa dioptimalkan, anak cedera otak bisa memiliki kemampuan intelektual sama dengan anak normal atau bahkan melebihi anak normal.

Format ulang

Anak yang mengalami cedera otak masih bisa ”diperbaiki” karena biasanya kerusakan tidak terjadi menyeluruh, tetapi hanya bagian-bagian tertentu saja. ”Masih ada sel otak yang bisa diformat ulang,” kata kata Douglas. Format ulang dilakukan dengan menciptakan gerakan dasar yang seharusnya dilewati seluruh manusia sejak kelahirannya, yaitu bergerak tanpa pindah tempat, merayap, merangkak, dan berjalan. Gerakan dasar ini diciptakan untuk menstimulasi otak. ”Lama-lama otak akan menyerap informasi kemudian akan merespons balik informasi tersebut,” kata Douglas.

Metode Glenn Doman dirancang untuk menciptakan kanal-kanal baru pada bagian otak yang belum terpakai. Kanal baru itu nantinya bisa memotong jalur penyampaian informasi pada otak yang cedera. Menurut Douglas, sebagian besar manusia menggunakan potensi otaknya hanya dua sampai tiga persen dan selebihnya belum terpakai.

Sebelum menangani anak-anak cedera otak, Glenn Doman dan timnya lebih dulu meneliti perilaku anak-anak normal dari berbagai negara. Ia lalu membuat profil perkembangan anak dari berbagai tingkatan usia. Dari profil itu baru diketahui anak yang tidak normal itu seperti apa.

Metode ini menciptakan kanal-kanal baru pada otak. Kanal baru ini nantinya akan memotong jalur penyampaian informasi tanpa melalui sel-sel yang rusak. Dengan kanal baru ini, informasi yang terputus antara pancaindra dan otak bisa tersambung kembali dan anak-anak cedera otak bisa hidup normal seperti anak-anak lain. (Lusiana Indriasari)

sumber: www.kompas.com

Pos ini dipublikasikan di Kesehatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s