Sabar Terhadap Ketaatan Kepada Alloh

Jalan menuju ridho Alloh ta’ala selalu dipenuhi dengan rintangan, karena tabi’at jiwa itu selalu lari dari ikatan, sedangkan ubudiyah (peribadatan) kepada Alloh ta’ala adalah pengikat bagi syahwat nafsunya, oleh sebab itu jiwa manusia tidak akan bisa lurus diatas perintah Alloh ta’ala dengan mudah dan gampang, ia butuh latihan dan pengekangan kendalinya, dan yang demikian ini sangat membutuhkan kesabaran. Alloh ta’ala berfirman:

Artinya:“Robb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam : 65)

Dan firman-Nya :

Artinya:“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS. Thaha : 132).

Sabar terhadap ketaatan kepada Alloh ta’ala itu terdiri dari tiga cabang, yaitu :

Petama: Sabar sebelum melakukan ketaatan yaitu dengan membenarkan niat dan ikhlas serta melepaskan diri dari noda-noda riya’.

Alloh ta’ala berfirman:

Artinya:”Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Huud : 11). Dalam ayat ini Alloh ta’ala mendahulukan sabar daripada amal.

Kedua: Sabar ketika menjalankan ketaatan, yaitu sekiranya tidak lalai darinya ditengah-tengah menjalankannya dan tidak malas, yang akhirnya ia menjalankan ketaatan itu dengan cara yang sempurna mungkin dan tetap sesuai dengan apa yang disyariatkan di samping tetap mengikuti apa yang telah dijelaskan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wassalam.

Alloh ta’ala berfirman:

Artinya:“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang sholih, sesungguhnya akan Kam tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi disurga, yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya. Itulah sebaik-baik pembaasan bagi orang-orang yang beramal. Yaitu yang bersabar dan bertawakkal kepada Robbnya”. (QS. Al-Ankabut : 58-59).

Ketiga: Sabar setelah amal, yaitu tidak melihat jiwanya dengan mata ujub (bangga diri) yang menjadikannya bangga dengan apa yang telah diperbuatnya karena riya’ dan sum’ah, yang demikian itu tidak dilakukannya agar amalnya tidak sia-sia dan pahalanya terhapus, sehingga hilanglah bekasnya.

Sabar terhadap dakwah adalah bentuk ketaatan yang paling agung, karena sesungguhnya dakwah jalannya panjang, diliputi oleh kesusahan dan penderitaan, yang demikian itu dikarenakan para da’i itu meminta manusia agar melepaskan hawa nafsu mereka, memutus angan-angan mereka, memerangi syahwat mereka, dan berdiri tegak di depan had-had (hukum-hukum) Alloh ta’ala baik yang berupa perintah maupun larangan.

Namun kebanyakan manusia tidak mau beriman kepada sekelompok manusia yang baru ini (para da’i), mereka memusuhinya dan memerangi dakwahnya dengan senjata apa saja yang mereka miliki.

Di depan kekuatan yang sombong dan kekuasaan yang sewenang-wenang ini, seorang da’i tidak akan mendapatkan tempat pelarian selain berpegang teguh kepada keyakinan dan sabar, karena sabar adalah pedang yang tak pernah tumpul, kuda tunggangan yang tak pernah terperosok, dan cahaya yang tak pernah redup.

Dan ketika itu hendaklah ahlul iman saling menyeru untuk nasehat-menasehati dengan kebenaran, dan nasehat-menasehati dengan kesabaran agar selamat dari kerugian yang jelas akan menimpa orang-orang yang lari dari petunjuk.

Dalam hal itu Alloh ta’ala Yang Maha Benar menurunkan surat Al-’Ashr secara keseluruhan, (Alloh ta’ala berfirman) :

Artinya“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-’Ashr : 1-3).

Dan diantara hamba yang mampu mengejawantahkan kebaikan surat ini adalah Lukman Hakim seorang hamba yang shalih, perhatikanlah dia menasehati anaknya, (firman-Nya) :

Artinya:“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Alloh “. (QS. Luqman 17).

Pos ini dipublikasikan di indahnya bersabar, mutiara hikmah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s