Jalan Menuju Kebahagiaan

Banyak cara dilakukan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyak harta kedudukan yang terpandang dan popularitas yang pantang surut. tidak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya terpandang dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak! Kalau begitu bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar?

Mungkin anda termasuk satu dari sekian orang yang tengah berupaya mencari cara untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup. Sehingga anda sibuk membolak-balik majalah tabloid dan semisal atau mendatangi orang yang berpengalaman untuk mencari kiat-kiat hidup bahagia. Mungkin kita sudah anda dapatkan namun ketika dipraktekkan kebahagiaan dan ketenangan itu tidak kunjung datang. Sementara kebahagiaan dan ketenangan hidup merupakan salah satu kebutuhan penting apalagi bila kehidupan selalu dibelit dan didera dengan permasalahan kesedihan dan kegundah gulanaan akan semakin terasalah kebutuhan untuk kebahagian atau paling tidak ketenangan dan kelapangan hati ketika menghadapi segala masalah.

Seperti semua orang hampir sepakat bahwa kebahagiaan tidak sepenuh diperoleh dengan harta dan kekayaan karena berapa banyak orang yang hidup bergelimang harta namun mereka tidak bahagia. Terkadang malah mereka belajar tentang kebahagiaan dari orang yang tidak berpunya.
Sebenar kebahagiaan hidup yang hakiki dan ketenangan hanya didapatkan dalam agama Islam yang mulia ini. Sehingga yang dapat hidup bahagia dalam arti yang sebenar hanyalah orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini. Ada beberapa cara yang diajarkan agama ini untuk dapat mencapai hidup bahagia di antara disebuntukan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah dalam kitab Al-Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa‘idah:

1. Beriman dan beramal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Siapa yang beramal shalih baik laki2 ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman mk Kami akan memberikan kepada kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lbh baik daripada apa yang mereka amalkan.”
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ini adalah janji dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang beramal shalih yaitu amalan yang mengikuti Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan dari keturunan Adam sementara hati beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memberikan kehidupan yang baik bagi di dunia dan membalas di akhirat dengan pahala yang lbh baik daripada amalannya. Kehidupan yang baik mencakup seluruh kesenangan dari berbagai sisi. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sekelompok ulama bahwa mereka menafsirkan kehidupan yang baik dengan rezki yang halal lagi baik sementara Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menafsirkan dengan sifat qana’ah demikian pula yang dikatakan Ibnu ‘Abbas ‘Ikrimah dan Wahb bin Munabbih. Berkata ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas: “Sesunggguh kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.” Al-Hasan Mujahid dan Qatadah berkata: “Tidak ada bagi seorang pun kehidupan yang baik kecuali di surga.” Sedangkan Adh-Dhahhak mengatakan: “Ia adalah rizki yang halal dan ibadah di dunia serta beramal ketaatan dan lapang dada untuk taat.” Yang benar dalam hal ini adalah kehidupan yang baik mencakup seluruh perkara tersebut.”

2. Banyak mengingat Allah karena dengan dzikir kepada-Nya akan diperoleh kelapangan dan ketenangan yang berarti akan hilang kegelisahan dan kegundah gulanaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ketahuilah dengan mengingat kepada Allah akan tenang hati itu.”

3. Bersandar kepada Allah dan tawakkal pada-Nya yakin dan percaya kepada-Nya dan bersemangat untuk meraih keutamaan-Nya. Dengan cara seperti ini seorang hamba akan memiliki kekuatan jiwa dan tidak mudah putus asa serta gundah gulana. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah mk Allah akan mencukupinya.”

4. Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dengan ikhlas kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki hubungan di antara manusia. Barangsiapa melakukan hal itu karena mengharapkan keridhaan Allah niscaya kelak Kami akan berikan pada pahala yang besar.”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas: “Yakni tidak ada kebaikan dalam kebanyakan pembicaraan di antara manusia dan tentu jika tidak ada kebaikan mk bisa jadi yang ada adalah ucapan tidak berfaedah seperti berlebih-lebihan dalam pembicaraan yang mubah atau bisa jadi kejelekan dan kemudlaratan semata-mata seperti ucapan yang diharamkan dengan seluruh jenisnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengecualikan: “Kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh untuk bersedekah” dari harta ataupun ilmu atau sesuatu yang bermanfaat bahkan bisa jadi masuk pula di sini ibadah-ibadah seperti bertasbih bertahmid dan semisal sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguh tiap tasbih adalah sedekah tiap takbir adalah sedekah dan tiap tahlil adalah sedekah. Demikian pula amar ma‘ruf merupakan sedekah nahi mungkar adalah sedekah dan dalam kemaluan salah seorang dari kalian ada sedekah.”

5. Menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.

6. Mencurahkan perhatian dengan apa yang sedang dihadapi disertai permintaan tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa banyak berangan-angan untuk masa yang akan datang karena akan berbuah kegelisahan disebabkan takut/ khawatir menghadapi masa depan dan juga tanpa terus meratapi kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan dan diraih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpamu sesuatu janganlah engkau berkata: “Seandai aku melakukan ini niscaya akan begini dan begitu” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan” karena sesungguh kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaithan.”

7. Senantiasa mengingat dan menyebut ni’mat yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik ni’mat lahir maupun batin. Dengan melakukan hal ini seorang hamba terdorong untuk selalu bersyukur kepada-Nya sampaipun saat ia ditimpa sakit atau berbagai musibah lainnya. Karena bila ia membandingkan keni’matan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan pada dengan musibah yang menimpa sungguh musibah itu terlalu kecil. Bahkan musibah itu sendiri bila dihadapi dengan sabar dan ridha merupakan keni’matan karena dengan dosa-dosa akan diampuni dan pahala yang besar pun menanti.

8. Selalu melihat orang yang di bawah dari sisi kehidupan dunia misal dalam masalah rezki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan ni’mat Allah yang diberikan-Nya kepada kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan jangan melihat orang yang di atas kalian karena dengan lbh pantas untuk kalian tidak meremehkan ni’mat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kalian.”

9. Ketika melakukan sesuatu untuk manusia jangan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun balasan dari mereka namun berharaplah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga engkau tidak peduli mereka mau berterima kasih atau tidak dengan apa yang telah engkau lakukan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan hamba-hamba-Nya yang khusus:

“Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah kami tidak menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.”
Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup. Sebagai akhir teruntai doa kepada Rabbul ‘Izzah :

“Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku yang agama ini merupakan penjagaan perkaraku dan perbaikilah bagiku duniaku yang aku hidup di dalam dan perbaikilah bagiku akhiratku yang merupakan tempat kembaliku dan jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam seluruh kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari seluruh kejelekan.” Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab. (Al Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Sumber: http://www.asysyariah.com

This entry was posted in mutiara hikmah and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s